Analisis Risiko Kesehatan Konsumsi Cumi Hidup: Tren 'Squid Shot'


Dunia kuliner kerap diwarnai dengan munculnya tren-tren baru yang menawarkan sensasi unik. Salah satu tren terkini yang menarik perhatian publik, khususnya dari Thailand, adalah konsumsi cumi hidup yang dikenal sebagai 'Squid Shot'. Praktik ini melibatkan penyajian cumi-cumi hidup dalam gelas berisi saus pedas dan asam, yang kemudian dikonsumsi langsung. Fenomena ini, meskipun menawarkan pengalaman ekstrem, memunculkan sejumlah pertanyaan serius mengenai potensi risiko kesehatan yang menyertainya.

Tim Medis Carepro, merujuk pada informasi dari Kementerian Kesehatan Thailand dan teknisi laboratorium Pakpoom Dejhasadin, menggarisbawahi bahwa konsumsi cumi mentah memiliki risiko signifikan. Cumi-cumi, seperti halnya organisme laut lainnya, berpotensi membawa patogen dan parasit yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika tidak dimasak dengan benar. Berikut adalah analisis lebih lanjut mengenai risiko-risiko tersebut:

1. Peningkatan Risiko Infeksi Bakteri dan Parasit

Bahaya utama dari mengonsumsi cumi mentah adalah potensi infeksi dari bakteri dan parasit. Lingkungan laut alami cumi dapat menjadi inang bagi berbagai mikroorganisme patogen. Bakteri seperti Vibrio vulnificus dan Vibrio parahaemolyticus sering ditemukan pada biota laut mentah dan dapat menyebabkan penyakit gastrointestinal serius. Selain itu, parasit seperti Anisakis, cacing nematoda yang dapat hidup dalam cumi-cumi, dapat menginfeksi manusia (anisakiasis) jika termakan hidup. Infeksi ini dapat menimbulkan gejala seperti nyeri perut parah, mual, muntah, diare, dan dalam kasus tertentu, dapat menyebabkan peradangan atau komplikasi yang lebih serius pada saluran pencernaan.

2. Keracunan Makanan Akut

Cumi mentah sangat rentan terhadap kontaminasi silang oleh berbagai bakteri, virus, dan parasit yang dapat memicu keracunan makanan. Kontaminasi ini bisa terjadi selama proses penangkapan, penanganan, atau penyimpanan yang tidak higienis. Bakteri Vibrio, khususnya, merupakan perhatian serius karena dapat menyebabkan infeksi yang cepat dengan gejala seperti mual, muntah hebat, diare berair, demam, dan kram perut. Pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, infeksi Vibrio dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk infeksi aliran darah atau luka kulit yang parah.

3. Reaksi Alergi dan Intoleransi Histamin

Cumi-cumi, terutama jika tidak disimpan dengan benar setelah ditangkap, dapat mengakumulasi kadar histamin yang tinggi. Histamin adalah senyawa yang terbentuk dari dekarboksilasi asam amino histidin oleh bakteri tertentu pada ikan dan makanan laut yang membusuk. Konsumsi makanan laut dengan kadar histamin tinggi dapat memicu reaksi mirip alergi yang dikenal sebagai keracunan scombroid. Gejalanya meliputi ruam kulit, gatal-gatal, kemerahan pada wajah, sakit kepala, pusing, mual, muntah, dan diare. Meskipun bukan alergi sejati, gejalanya bisa mirip dan bervariasi dari ringan hingga berat. Untuk individu yang memang memiliki alergi terhadap makanan laut, konsumsi cumi dapat memicu reaksi alergi sesungguhnya, termasuk anafilaksis, kondisi serius yang memerlukan penanganan medis darurat.

Apabila gejala serius seperti dehidrasi parah akibat diare, infeksi sistemik, atau reaksi anafilaksis muncul, intervensi medis profesional menjadi krusial. Dalam kasus seperti ini, penyediaan paket perawatan medis lengkap di rumah, termasuk layanan perawat homecare untuk infus, pemasangan selang NGT (nasogastric tube), atau kateter, dapat menjadi solusi yang direkomendasikan untuk memastikan penanganan yang tepat dan nyaman bagi pasien.

Prinsip Keamanan Pangan dalam Penanganan Cumi

Mengingat risiko-risiko tersebut, praktik keamanan pangan menjadi esensial saat mengonsumsi cumi. Tips berikut ini direkomendasikan untuk meminimalkan potensi bahaya:

  • Pilih Cumi Segar Berkualitas: Cumi yang segar umumnya memiliki warna kulit putih keabu-abuan dengan bintik kemerahan yang masih jelas, tekstur daging kenyal, bau amis yang khas namun tidak menyengat, serta kepala dan tubuh yang masih utuh. Hindari cumi dengan warna keunguan tua, tentakel robek atau kekuningan, karena ini menandakan tanda-tanda pembusukan.
  • Bersihkan Cumi Secara Menyeluruh: Pastikan cumi dibersihkan dengan benar, termasuk membuang tulang rawan dan kantung tinta. Pembilasan dengan air bersih mengalir sangat penting.
  • Masak Cumi Hingga Matang Sempurna: Metode paling efektif untuk menghilangkan bakteri dan parasit adalah dengan memasak cumi hingga matang sempurna. Suhu internal yang mencapai tingkat aman akan membunuh sebagian besar patogen. Hindari konsumsi cumi mentah atau setengah matang.
  • Penyimpanan yang Tepat: Cumi harus segera didinginkan atau dibekukan setelah dibeli jika tidak langsung diolah untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan pembentukan histamin.

Sebagai kesimpulan, meskipun tren 'Squid Shot' menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda, risiko kesehatan yang terkait dengan konsumsi cumi hidup sangat perlu dipertimbangkan. Edukasi mengenai keamanan pangan dan praktik pengolahan yang benar menjadi kunci untuk melindungi kesehatan masyarakat dari potensi bahaya yang tidak terlihat.


Informasi ini disajikan kembali oleh redaksi. Untuk kebutuhan perawat medis profesional (kunjungan ke rumah), Referensi Kesehatan: Carepro.co.id, www.medilana.id.

Posting Komentar untuk "Analisis Risiko Kesehatan Konsumsi Cumi Hidup: Tren 'Squid Shot'"